rss

Berita Nasional Terbaru

Powered by Blogger Widgets

Berita Internasional Terbaru

Powered by Blogger Widgets
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Dalam Negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Dalam Negeri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Agustus 2009

Bank Century Bisa Sehat Kembali


JAKARTA : Angin segar berhembus kepada Bank Century setelah beberapa waktu lalu telah ditetapkan sebagai bank yang gagal. Menurut Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Firdaus Djaelani mengatakan pihaknya cukup optimistis dapat membantu Bank Century agar bisa sehat kembali.

"Kita cukup optimistis dengan pemberian dana hingga Rp6,7 triliun sehingga bank ini bisa sehat kembali dan kita juga menunggu suatu saat akan ada yang membeli bank ini," ujarnya seusai rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (27/08/09).

Beberapa pendapat mengatakan bahwa tindakan dari LPS ini dapat membuat LPS mengalami kerugian hingga RP5 triliun akibat mendivestasi Bank Century, akan tetapi hal ini dapat disangkal olehnya. "Jika suatu saat LPS mengalami kekurangan dana dalam membantu penyehatan bank-bank bermasalah, dalam UU telah dijelaskan pemerintah bersama DPR akan memutuskan untuk menyuntikkan dana," ujarnya.

Ia menambahkan LPS merupakan bagian dari program penjaminan pemerintah yang menjalankan perintah untuk menyelamatkan bank-bank bermasalah. Selain itu, LPS juga siap dengan risiko membayar klaim untuk bank karena itu juga kewajiban LPS sebagai lembaga penjamin dan penyelamatan bank.

"Kita siap membayar klaim-klaim dengan kemungkinan klaim tersebut tidak kembali karena aset bank gagal yang dijual tentunya tidak cukup untuk menutupi seluruh kerugian," ujarnya.

Sumber : Media Indonesia.com
Baca Selengkapnya - Bank Century Bisa Sehat Kembali

Kamis, 13 Agustus 2009

Masyarakat Berburu Uang Rp. 2000


Bank Indonesia secara resmi telah mengumumkan uang pecahan Rp. 2000 tahun emisi 2009 yang baru sebagai alat bukti pembayaran yang sah (9/7/09).

“Penerbitan uang kertas emisi baru tersebut merupakan implementasi kebijakan Bank Indonesia di bidang pengedaran uang yaitu untuk memenuhi kebutuhan uang rupiah di masyarakat dalam jumlah nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan dalam kondisi yang layak edar”, demikian Pjs. Gubernur Bank Indonesia, Miranda S. Goeltom, dalam sambutannya.

Uang Rp. 2000 yang baru ini berwarna abu-abu dan bergambarkan Pangeran Antasari di bagian depannya dan Tarian Adat Dayak di bagian belakangnya. Mayarakat saat ini bisa mendapatkan uang tersebut langsung ke Bank Indonesia ataupun di bank-bank lainnya dengan jumlah yang terbatas.

Saat ini banyak masayarakat yang berburu uang tersebut, dikarenakan mereka belum tahu ada peluncuran uang tersebut yang secara resmi telah diluncurkan bulan lalu. Masyarakat juga mendapatkan informasi bahwa seiring peredaran uang kertas Rp 2.000 itu, pemerintah akan menarik secara perlahan uang kertas pecahan Rp 1.000. "Informasi yang kami terima demikian."

Baca Selengkapnya - Masyarakat Berburu Uang Rp. 2000

Minggu, 02 Agustus 2009

BI Rate Turun, Kredit Sektor Konsumsi Naik


VIVAnews- Penurunan BI Rate yang diikuti oleh penurunan suku bunga SBI membuat perbankan mengalihkan dananya ke instrumen yang menghasilkan yield lebih tinggi. Akibatnya bank banyak memberikan kucuran kredit ke sektor konsumer dibandingkan kredit investasi dan modal kerja.

Menurut ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sri Yani Kusumastuti, selama 5 bulan (Januari-Mei) kredit sektor konsumsi naik Rp 17 triliun dari Rp 367,165 triliun pada Januari 2009 menjadi Rp 384,77 triliun. Sementara kredit investasi hanya naik Rp 3 triliun dari Rp 259 triliun menjadi Rp 262,46 triliun. Sedangkan kredit modal kerja justru menurun Rp 5,21 triliun dari Rp 663 triliun ke Rp 658 triliun.

Suku bunga deposito yang dibayarkan ke nasabah juga lebih tinggi dibanding SBI. Bank masih lambat menurunkan suku bunga deposito karena persepsi risiko masih tinggi. "DPK bank masih didominasi dengan dana mahal," katanya di Jakarta Minggu 2 Agustus 2009.

Suku bunga kredit konsumsi masih berada di kisaran 18 persen, atau mengalami turun tipis. Berbeda dengan suku bunga kredit modal kerja yang sudah mulai menunjukkan penurunan di kisaran 15 persen.

Penurunan bunga kredit tidak serta merta mendorong pertumbuhan kredit, karena melemahnya permintaan kredit akibat aktivitas ekonomi yang ikut melemah.

Bank juga mewaspadai lonjakan kredit macet (non performing loan/NPL) yang sudah terlihat. NPL yang naik di sektor perindustrian dari 5,41 persen pada 2008 menjadi 7,81 persen pada Mei 2009, sektor konstruksi dari 3,16 persen menjadi 5,35 persen.

Untuk meningkatkan kemampuan intermediasi perlu didukung dengan kemudahan restrukturisasi kredit sebelum menjadi kredit bermasalah. Bank sebaiknya diberi ruang untuk melakukan restrukturisasi kredit lancar sebelum menjadi bermasalah tanpa harus masuk kategori NPL.

"Agar bank BUMN dapat memperoleh pendapatan demi peningkatan modal, maka sebaiknya bank BUMN diberi kelonggaran untuk memberikan potongan pokok kredit untuk restrukturisasi kredit macet," katanya.

Sumber : yahoo.co.id
By Elin Yunita Kristanti, Nur Farida Ahniar - VIVA News
Baca Selengkapnya - BI Rate Turun, Kredit Sektor Konsumsi Naik

Berita Ekonomi

Powered by Blogger Widgets

Berita Hiburan

Powered by Blogger Widgets

Berita Olah Raga

Powered by Blogger Widgets

Google News Headline